Januari, tanggal 31. Officially hari ini salah satu rutinitas gw tiap hari yang gw jalani selama 30 hari belakangan resmi berakhir. Namun sesuai dengan niatan awal gw, gw akan meneruskan momentum yang gw dapatkan dari kegiatan itu untuk emnghidupkan kembali blog gw ini. Mumpung gw masih melek terjaga di jam-jam keramat buat otak gw, jadi sekalian aja gw tulis catatan gw untuk hari ini, sebagai tanda kalo radenisme resmi gw hidupkan kembali. Masih dengan bercerita tentang kehidupan gw (yup!), membahas hal-hal yang mungkin nyangkut di kepala gw mulai dari teknikal, isu yang lagi santer, ataupun cuma sekedar galaunya gw aja. Don’t expect to much guys, this is my journal of my own life after all. 

Sebelum mulai bercerita lebih lanjut, gw akan bilang bahwa radenisme akan coba gw integrasikan dengan @rpabdinegara sebagai lanjutan dari kegiatan #30haribercerita. Layout tulisan akan sedikit gw ubah dari postingan gw sebelumnya karena basically it’s a blog! No caption limit anymore! yeah! Tapi mungkin akan ada penggunaan beberapa hal yang mungkin kurang pas ada di blog seperti penggunaan tagar (#) dan lain sebagainya. Gw ngga akan rilis postingan setiap hari layaknya sebulan kemarin, cuma gw akan coba keep a good pace. 

Well sekian dulu kali ya. Paling ngga lama lagi gw udah buat postingan lagi haha. Selamat tidur guys!

Abaikan postingan sebelum ini. Ya ngga diabaikan juga gpp sih, biar jadi salah satu catatan penting dalam hidup gw bahwa gw pernah jatuh, dan malam ini gw akan bangkit lagi.

Mohon tunggu beberapa saat (atau mungkin jam, atau mungkin hari), I will let you know that I am really back in business.

Welterusten.

p.s.
Thanks to @30haribercerita. Berkat elu (atau kalian) gw bisa berdiri lagi. GW SUMPAHIN ELU (atau kalian) DAN SEMUA ORANG YANG UDAH IKUTAN SUKSES DUNIA AKHERAT, AAMIIN!karena kata guru gw nyumpahin orang lebih manjur ketimbang ngedoain orang, hihihi.

Content modified.

Kayaknya satu hal yang perlu gw sadari bahwa radenisme isinya melulu mellow ya. Dia jadi tempat pelarian gw dari hal-hal yang membuat hati gw gak jelas. Jarang dia berfungsi seperti dulu, pengingat akan berbagai rasa, diantaranya rasa senang.

Barusan dapat kabar kalau shift gw diganti mulai besok. Jadi malem ini yang mustinya gw istirahat, gw memutuskan untuk terjaga supaya besok siang gw tidur, dan malemnya masuk seger. Eh gak lama ada kejadian baru lagi. Kejadian gak enak. Sampe hilang nafsu makan gw, padahal gw nunggu waktunya supper dari tadi.

Okay, gw gak mau nulis apapun soal itu disini. Cuma bikin hati gak jelas. Gw mau cerita tentang hal yang baru aja terlintas di pikiran gw. Tentang kejadian di tahun 2008, di suatu malam yang gw lupa hari apa dan bulan apa. Yang dimulai dari hotel The Sultan, Jakarta.

Malam itu spesial buat kami. Setelah bertahun-tahun berjuang, paling tidak di malam itu kami ingin berlagak “dewasa” sedikit. Berpakaian seperti orang dewasa, berlagak seperti orang dewasa, walaupun umur kami tidak lebih dari 20, bahkan 19 tahun di malam itu.

Acara Prom Nite 78 angkatan 2008 malam itu ceritanya sudah di penghujungnya. Kami semua berkumpul, melingkar, dan menyampaikan apa yang ingin kami sampaikan. Gw, seperti biasa, maju ke depan dan bersuara. Menyampaikan tentang persahabatan. Niatnya. Walaupun tetap saja diujungnya gw melakukan sesuatu yang bodoh.

Gw ternyata lupa narasi gw waktu itu hahahahahaaa, tapi ada frasa yang gw ingat. “… gw ingin, gw menjadi orang yang akan memakaikan cincin di jari manisnya …” Well, I’ve said it. Proudly. Stupidly.

Beberapa jam kemudian, cuma gw dan dia. Gw, kemeja berdasi, celana kain, dan sendal jepit. Dia, masih dengan gaun baby doll-nya yang anggun, lengkap, tidak ada yang berubah dr prom nite tadi. Di taksi perjalanan pulang kami memutuskan untuk tidak pulang, paling tidak dia yang ngga pulang, kalau gw masih pulang cuma untuk ambil motor dan pergi lagi. Dan kami pergi lagi, di tengah malam dingin, naik motor karena itu yang kami punya, dan merapat di McDonalds Blok M, karena cuma itu yang kami sanggup. Kami bertekad untuk ngobrol sampai pagi datang, menikmati waktu bersama diantara kami, yang semakin hari semakin habis.

Satu jam. Sepertinya tidak lebih. Waktu yang kami butuhkan untuk merubah perbincangan manis itu menjadi pertengkaran hebat yang penuh dengan nada offensif. Pertengkaran itu lama terjadinya. Di fast food 24 jam itu, dan bahkan di jalan pulang. Gw udah lupa dulu kami ngeributin apa. Dan kami saat itu tidak lebih dari remaja 18 tahun yang baru saja lulus SMA, rasanya tidak ada yang penting dari ributnya kami saat itu. Dan sebelum adzan subuh datang, gw sudah antarkan dia di depan rumahnya. Lengkap dengan maskara yang luntur akibat air mata. Gadis yang malang.

Apa kabar ya dia? Kadang gw bertanya kabar wanita yang menjadikan gw laki-laki seperti gw sekarang. Gw yakin dia masih menjadi salah satu pelaku utama atas pembentukan diri gw ini. Berkat semua kenangan bersama dia, semua luka dari hubungan sama dia yang sudah sembuh ini, semua fakta yang telah dibukakan oleh dia. Gw bersyukur bisa kenal dia.

Malam itu. Malam Prom Nite itu. Akan menjadi pengingat gw bahwa ada zat yang maha membolak-balikkan hati. Yang atas kuasanya semua bisa berubah 180 derajat dengan cepatnya.

Pause dulu, kebelet pipis. Hehe.

Lanjut.

Beberapa waktu lalu, gw sedang rutin nonton video yang ada di ted.com. Salah satu dari videonya itu bilang gini kurang lebih. “… Sometimes it is better to let someone else sit in the driver seat and make ourselves sit as a passenger in passenger seat …” Kadang lebih baik kita biarkan orang lain yang mengambil keputusan akan langkah kita dan kita mengikutinya.

Mungkin, sekarang saatnya. Sekarang saatnya gw biarkan zat yang maha membolak-balikkan hati itu jadi supir di kehidupan gw dan gw cuma duduk di kursi penumpang pasrah kemanapun sang supir membawa gw. Pasrah membiarkan ia membolak-balikkan hati gw setidak jelas ini.

Kalau kata Darwis Tere Liye, mungkin ini supaya gw merasakan kalau gw juga manusia.

Mungkin.

Out.

Capek.

Ke 9 sih sebenarnya. Cuma karena rencana awal gw untuk rutin nulis selama di kapal ngga kesampean, jadi yaudah nulis hari ke sekian aja. hahaha~

Awalnya gw pikir gw akan punya banyak waktu luang untuk bisa menulis blog. Cuma sepertinya gw ngga nemu mood untuk nulis. Kalau si Dede, laptop sakti gw yang sudah cukup berumur, lagi idup biasanya gw lagi di kantor. Agak ngga “klik” buat nulis karena semua orang bisa membaca tulisan gw ditengah proses menulis which is quite a mood killer buat gw. Lalu kalau gw sudah sampai di kapal akomodasi cenderung terlalu ribet untuk ngidupin si dede dan gw memilih untuk tidur, atau mandi, atau fitness (iyes, fitness. Seneng setengah mati gw begitu tau ni kapal ada fasilitas fitnessnya ngahahahaaaa). Atau yang belakangan sering gw lakukan, adalah baca buku yang turns out cukup menyenangkan. Hanya saja karena stok buku bacaan tinggal satu, tinggal si buku pamungkas, Twenty Thousand League Under The Sea, jadi sengaja gw lambat2in bacanya. Supaya lebih tenggelam di serunya petualangan Captain Nemo dan Monsieur Aronnax.

Ni Cover bukunya, Vingt Mille Lieues Sous La Mer, judul aslinya. Cover punya gw ngga kayak gitu sih, agak lebih boring.

Dan nasi goreng pesanan gw dari galley sudah datang. Gw makan bentar ya. Oke, makan siang udah. Lanjut.

As per hari ini, sebagian pekerjaan gw udah kelar. Fase penggelaran pipa bawah laut udah selesai, tinggal AWTI dan prekomisioning aja. Kemarin gw kerja 24 jam lebih beberapa jam, jadi hari ini gw memutuskan untuk istirahat sejenak lah. sambil maen-maen menikmati waktu sama si Dede.

And I will tell a story. About a bond that never expected to be exists. Ehem-ehem.

Sebagai generasi yang tumbuh besar bersama video game, tentunya bermain game adalah salah satu hal yang gw senangi. Semenjak awal punya Nintendo, terus pindah ke Sega, sempat lowong sampai akhirnya dibeliin Playstation pas gw kelas 6 (kalo ngga salah), bertahan beberapa tahun sampai akhirnya semua game bagus PS hijrah ke PS2. Maka dimulailah hari-hari tanpa game, saat itu.

Ketika gw SMA dan mulai bermain bareng Dolly dan Amin yang mulai meracuni gw dengan game PC. Sayangnya gw yang saat itu belum punya PC, minta dibelikan pun ngga dikasih. Sampai akhirnya beberapa saat kemudian baru dibelikan. Niatan awalnya pas dibelikan itu untuk mengerjakan tugas, untuk bikin pr, dsb. Walaupun pada pengaplikasiannya gw pake mayoritas untuk main game. Game-nya ngga banyak, karena dibatasi sama spek komputernya.

Loncat ketika gw kuliah, PC yang sama masih menemani gw. Not exactly the same PC ama yang dulu pas awal SMA itu karena udah ada beberapa modifikasi di hardwarenya. Pas gw kuliah itu bisa dibilang mobilisasi gw lumayan tinggi lah. Jam 5 pagi masih di rumah uti gw, jam 6 udah di gelanggang mahasiswa, jam 7 udah di kelas, jam 11 udah di kosan Dolly, jam 1 udah di kontrakan Olan, jam 3 sore udah di gelanggang mahasiswa lagi, jam 7 udah di gedung pusat fakultas, jam 10 malem di warnet, dan jam 2 di rumah uti gw lagi. Kurang lebih kayak gitu lah. Menyebabkan akhirnya gw sampai pada kesimpulan gw perlu PC yang mobile juga. Laptop.

Tahun 2008 adalah saat gw pengen laptop yang saat itu sebuah laptop adalah bawah mewah untuk gw. Asli. Gw akan mikir berkali-kali sebelum gw minta untuk dibelikan laptop (saat itu gw baru bisa untuk minta, shame on me). Akhirnya gw beranikan diri untuk coba ngomong akan kebutuhan gw, kali ini tanpa minta. Lalu tiba-tiba gw ditawarin sebuah penawaran yang cukup absurd buat gw. Karena ada rejeki, gw diminta untuk memilih, mau Blackberry atau laptop. Walaupun saat itu Blackberry juga termasuk barang mewah untuk gw (saat itu rekor hp paling mahal gw Sony Erricsson W890i, 2 juta aja, belinya patungan ama nyokap), sempet bingung juga mau pilih yang mana. Yah, bingungnya bentar doang sih. Sekitar 2 detik lah, habis itu mantap. Gw pilih laptop. Buat apa Blackberry saat gw cuma butuh hp buat sms dan telpon? Di sisi lain gw melihat banyak possibility yang bisa muncul di depan gw (termasuk main game juga) kalau gw punya laptop. Beberapa bulan setelah itu, sekitar bulan Februari 2009, si Dede datang ke kehidupan gw.

Hp Pavilion DV3600, gw lupa tepatnya dia seri berapa. Walaupun awalnya gw agak kecewa ketika dia datang. Karena gw minta tolong kakak ipar gw untuk beli dari jakarta, gw hanya minta satu yang menjadi spek minimumnya. yaitu VGA dedicated. Adalah betul, si Dede memiliki Virtual Graphic Adapter yang Dedicated, besar pula untuk ukuran masa itu, 512MB. Tapi blundernya gw adalah, processornya masih dual core, bukan core 2 duo seperti yang gw harapkan. Tapi walaupun begitu, dia mulai menemani gw di berbagai aspek kehidupan gw.

Begitu gw punya si Dede, PC gw hibahkan ke yang membutuhkan. si Dede cukup ajaib saat itu untuk menjalankan komputasi software yang gw untuk berbagai kegiatan gw. Mulai dari main game macam The Sims 3 sampai dengan melakukan komputasi Matlab, dia bisa. Tentunya juga dia mampu untuk menemani gw membuat tulisan-tulisan gw ketika gw aktif di BEM. Sempet juga dia menemani gw bikin postingan untuk Radenisme di awal-awal masanya.

Seiring waktu berjalan, software mulai makin berat, dan si Dede mulai melemah. Dimulai dengan di sambar petir (yang untungnya masih garansi karena yang diganti mainboard-nya), batre yang mulai bocor, sampai keyboard yang rusak. Sempet si Dede sudah layaknya PC berjalan, karena dia butuh mouse dan keyboard terpisah untuk bisa dipakai, bikin gw mulai merasa malas untuk make dia kalau ngga penting-penting amat. Perlahan tapi pasti, gw mulai mengurangi kebersamaan gw dengan si Dede.

Untungnya, Adek kelas gw yang bernama Lucky (artinya untung btw. tapi asli namanya lucky. atau luki ya?) punya laptop yang sama persis. Kemudian dengan transaksi ala kadarnya, gw mulai menukar keyboard laptop gw dengan keyboard milik dia. Walhasil, masalah keyboard rusak sudah terselesaikan, walaupun transaksi itu membuat gw harus menukar salah satu RAM 2 GB si Dede menjadi 1GB. Tapi gpp lah, paling tidak si Dede kembali menjadi laptop, hehehee.

Di awal masa-masa skripsi gw, sadar bahwa gw akan melakukan serangkaian simulasi aliran fluida yang lumayan rumit, gw mulai ragu dengan kehandalan si Dede. Alhamdulillah waktu itu ada rejeki, jadi gw memutuskan untuk kembali ke PC. Ya, paling tidak kalau butuh komputasi berat gw ada PC, kalo mobile gw ada si Dede. Kira-kira oktober 2012 akhirnya gw resmi build a PC (thanks to dolly dengan masukan-masukannya). Sebuah PC dengan spek yang cukup terdepan, yang membuat gw bisa main Assassin’s Creed dengan graphic maximum, sambil buka banyak tab browsing, jalanin simulasi skripsi gw, beberapa aplikasi Microsoft Office juga kebuka, dan beberapa window lainnya secara bersamaan cuma dengan memakai sekitar (kalo ngga salah) 50% dari kemampuan maksimal PC gw. Lumayan banget lah walaupun belum bisa mengalahkan PC 16 juta lebih punyanya Nabil.

Si Dede? masih gw pakai, seperti yang gw bilang, kalau gw mobile, gw pakai dia. Cuma ya itu. Kemampuan si Dede sama PC baru gw itu bagaikan bumi dan langit. Pernah suatu ketika gw coba running simulasi gw di si Dede. Kalo PC gw cuma butuh 12% dari kemampuan komputasinya untuk running simulasi itu, si Dede cuma butuh 30 menit untuk overheat dan mati dengan sendirinya karena tidak mampu menjalankan komputasi itu. Ngenes yak.

Sekarang? Selepas semua hiruk pikuk skripsi gw, kemudian dengan pola kehidupan yang gw jalanin sekarang, dengan serangkaian aktivitas gw sekarang, PC gw itu malah ngga pernah gw pakai lagi. Dia ngejogrog gitu aja di kamar gw. Gw kembali bersama si Dede untuk serangkaian aktivitas gw. Walaupun si Dede total udah 2 kali instal ulang, hidup tanpa batre jadi harus colok kabel ke listrik terus, chargeran-nya pake punya temen kuliah gw (karena bawaan si Dede udah rusak), gw masih sama dia. Dia masih sanggup untuk menemani gw sampai saat ini.

For one that I was full of doubt of it, yet it shows me that he is the one that survive the longest, amongst his fellow electronics. It’s been a blast until now and I know we will still go on through another wild journeys ahead.

Dan gw bahkan masih ngga percaya gw bisa menulis sepanjang ini cuma untuk bercerita mengenai laptop. Laptop gw. Laptop kesayangan gw. Si Dede.

Penampakan si Dede, yang lagi gw pakai untuk nulis postingan ini.

Penampakan si Dede, yang lagi gw pakai untuk nulis postingan ini.

Dan mungkin, gw yang ngga berani untuk kembali menyalakan PC gw karena hal yang ada di dalamnya. Mungkin.

Until next post.

Harusnya gw mulai menulis dari kemarin ya? Saat hari pertama gw. Tapi kemarin gw memutuskan untuk coba adaptasi dulu sama barge, bukan kapal sebenernya, yang dulu sempat gw tinggali selama 2 minggu itu. Dan seperti biasa, adaptasi dengan kamar mandi adalah yang paling sulit.

Sekarang gw mulai menulis di sekitar 2/3 dari shift gw yang mulai jam 6 pagi tadi (gw nulis ini tanggal 13 Nov, tapi baru bisa gw posting di pagi hari tanggal 14 Nov). Seperti biasa, mencoba mengisi waktu kosong di sela-sela shift gw. Kerja yang sifatnya benar-benar hanya memantau, tipikal inspeksi yang sebenarnya semua sudah ada orang yang mengawasi. Jadinya gw hanya tinggal tunggu report, tanda tangan, dan selesai. Membosankan kan? Bikin tambah parah suasana hati gw lah.

Setidaknya ngga semuanya parah. Semenjak gw naik ke kapal kemarin gw memutuskan untuk mematikan internet dari hp gw. Mencoba sejenak menyendiri dan mencoba merenung cuma dengan apa yang gw miliki sekarang, yaitu buku yang gw beli kemarin, film-film yang gw dapet ngopi dari temen-temen di sini, mungkin sesekali main Nintendo 3DS gw mencoba namatin Bravely Default, dan kitab kecil yang satu itu.

Okay. Basically kegiatan di kapal cukup sederhana. Gw bangun di adzan subuh, lalu sarapan kalau lagi mood, naik ke kapal lainnya untuk diantarkan ke kapal kerja gw jam 5.15, lalu seharian di kapal kerja sampai jam 6 sore, pulang, mandi, tidur. Tipikal rutinitas robot. Jujur asli gw kangen banget sih dengan interaksi gw dengan kehidupan sosial internet gw. Tapi gw rasa ini saat yang tepat untuk sejenak mundur dan sadar bahwa itu hanya tambahan biasa. Hidup gw ya yang di depan gw, mencoba gw maksimalkan. Biarkan yang lain Tuhan yang atur. Termasuk urusan satu itu yang masih aja ganjel di hati.

Ada yang bilang proyek gw ini akan sampai akhir bulan ini aja. Ada juga yang bilang sampai pertengahan bulan Desember depan. Dan ada juga yang bilang masih kira-kira 6 bulan lagi. Yang jelas gw baru aja tadi menandatangani dan mengirim surat keterangan bahwa gw memilih untuk tidak pulang dan istirahat di jatah cuti gw besok. Dan jatah itu baru akan datang 7 minggu lagi. Semoga gw belum jadi mayat hidup ketika waktu itu ada hahahahaa.

Oh ya lupa gw tulis. Salah satu upaya supaya gw ngga menjadi robot adalah gw menulis. Gw yakin ini pengalaman yang luar biasa untuk gw bisa hidup di tengah perairan selat Madura. Lucu sih, setiap kali gw memandang laut yang ujungnya ngga keliatan, gw selalu ingat akan sesuatu. Yah, sakit sih, tapi paling tidak coba gw nikmati. Sambil senyum-senyum dikit lah biar tambah keliatan kayak orang gila. Tapi asli, keinginan buat nyebur aja kelaut itu muncul lho semalem, hahahahahaaaa.

Okelah, sampai sini dulu. Gw ngga mau ngabisin semua cerita gw di postingan gw kali ini. Di postingan Diary Kapal berikutnya aja gw ceritain lagi.

Ciao.

Sudah lewat sejam yang lalu saat gw pamit sama Dolly untuk tidur. Karena berasa memang sudah ngga ada kegiatas lagi yang akan gw lakukan maka itu jadi alasan untuk menyudahi sesi konsultasi tersebut. Eh ternyata belum bisa tidur sampai sekarang. Ngga heran sih, seharian tadi gw tidur doang soalnya.

Sebenarnya gw ngga ada niatan akan nulis blog malem ini. Terlalu banyak hal yang bikin gw untuk enggan produktif malam ini. Mulai dari kebiasaan gw untuk mulai mellow kalau harus meninggalkan sesuatu (karena kerjaan gw di Lamongan sudah selesai, gw akan meninggalkan kosan gw ini tanpa sempat menengok kebun binatangnya, duh), sampai fakta bahwa gw harus kembali ke petak pertama langkah gw setelah selama ini gw pikir gw sudah berjalan jauh. Okay well, gw nulis blog cuma karena gw ngga bisa tidur, bukan untuk curhat hal yang bikin gw tambah berat ngapa-ngapain aja. lets go.

Yah malam ini juga sebenarnya gw ngga ada topik untuk menulis sih. Cuma pengen berbuat sesuatu (ya yang awalnya ngga pengen jadi terpaksa berbuat sesuatu) karena daripada cuma bolak-balik badan aja ngga jelas. Bahkan sampai titik ini judul blog gw aja belum gw tulis. Mungkin baru akan gw tulis kalau gw sudah selesai nulis.

Oh gw tau, gw cerita soal buku-buku yang baru aja gw baca ya!

Belakangan karena gw cukup lowong, kerjaan banyak bolongnya, jadilah gw mulai bingung akan ngapain di keseharian gw. Dimulai dari gw buka-buka laptop biar keliatan kerja, ternyata tetap aja bosen. Bergantilah gw mulai cuek maenin Nintendo 3DS gw, dan ternyata bosen itu melanda lagi (ternyata penyakit bosenan gw akut juga). Terus kebetulan waktu itu gw lagi jalan-jalan ke Surabaya untuk makan lontong balap (AKHIRNYA GW MAKAN NI MAKANAN!) tiba-tiba temen kuliah gw yang bernama Novi yang berbagi kesukaan yang sama ama gw yaitu seneng baca, watsap gw. Dia bilang buku serial SUPERNOVA karya Dee yang berikutnya udah keluar. Langsung ibarat orang kalap gw minta mobil kantor yang waktu itu bawa beberapa orang di situ membelokkan kemudinya ke arah Gramedia terdekat. Hanya butuh waktu sebentar untuk gw bisa menemukan itu buku di tumpukan yang berada dekat dengan pintu masuk dari Gramedia itu. Beli.

Dan butuh waktu yang sebentar juga untuk gw menyelesaikan serial ke 5 itu. Temen satu kamar gw sampe takjub buku setebel gitu gw selesaikan dalam waktu cuma 2 hari kurang lebih. Gw masih berasa normal soalnya gw pernah lebih gila ngabisin Partikel, serial ke 4 dari SUPERNOVA cuma dalam waktu perjalanan gw naik kereta dari Jakarta ke Jogja, ngga lebih dari 8 jam untuk buku setebal 483 halaman itu selesai gw baca. Memang SUPERNOVA selalu bisa membawa gw ke tempat lain, hahahahaaa.

Nggal lama dari selesainya gw sama buku itu, gw kembali ke Gramedia. Kali ini sebenernya kebetulan aja ke situ waktu lagi cari sepatu di Ciputra World Surabaya. Tetiba mata ini kecantol sama salah satu buku karya Darwis Tere Liye yang judulnya Rindu. Ni buku lebih tebel lagi, awalnya males sih liat buku tebel, apalagi karya seseorang yang gw masih belum tau gw akan suka gaya bahasanya atau ngga. Spontan gw balik itu buku dan lihat halaman terakhirnya, ada sebuah puisi di sana. Begitu baca, bulat hati gw. Beli.

Bukunya bagus, bikin gw jadi pengen secepatnya bisa naik haji. Naik haji di buku itu cuma sebagai salah satu latar aja sih untuk sebuah cerita mengenai perjalanan yang dikemas sedemikian bagusnya sama si penulis. Beberapa kali gw membacanya cuma sebagai penghilang suntuk aja. Eh ngga nyangka ngga nyampe seminggu kelar. Mulai butuh buku baru lagi, hahahahaaa.

Persis di hari berikutnya, gw ke Surabaya lagi. Salah satu bos gw ngajak ketemuan untuk makan bareng. Yaudah berangkat deh buat makan bareng. Sebelum pulang gw mampir Gramedia lagi buat beli buku. Setelah beberapa saat konsultasi sama Novi lagi mengenai buku Tere Liye mana yang kira-kira cocok buat kondisi gw sekarang, akhirnya keluar satu judul, namanya Bumi. Di Gramedia, bolak balik muter sana sini ngga ketemu-ketemu ama ni buku, akhirnya nanya ama mba-mba yang jaga. Ketemu juga sih akhirnya. Dan lagi-lagi di rak yang sama ada satu buku yang menarik perhatian gw. Bukunya si Tere Liye juga, judulnya Sepotong Hati yang Baru. Gw putuskan untuk ambil juga. Di sore itu udah 2 buku aja di tangan gw. Eh terlintas untuk baca buku impor lagi. Sebenernya agak skeptis sih bisa nemu buku impor bagus di Gramedia, biasanya nyarinya di Periplus, tapi yasudah gw rasa ngga ada salahnya gw bertanya dimana rak buku impor. Dan di situ lah gw, berdiri di depan rak buku impor, sekedar liat-liat. Lagi-lagi, ada yang menarik perhatian gw. Sebuah buku dengan nama penulis yang ngga asing lagi di telinga gw, JULES VERNE. Gw ambil bukunya, judulnya ternyata Two Thousands League Under The Sea, buku legendaris tentang Kapten Nemo dan Nautilus. Kalap, beli. Jadilah beli 3 buku di sore itu hahahahahahaaaaa~

Persiapan sih sebenernya, karena gw tau ngga lama dari hari itu gw akan naik ke kapal yang pastinya bakalan super duper boring makanya gw beli buku banyak. Awalnya mau baca Two Thousands League Under The Sea dulu, tapi gw rasa bakalan lebih yahud kalau ini buku dibacanya di atas kapal, jadi gw urungkan. Mau baca Bumi, kayaknya ntar aja karena mencoba mencari suasana yang pas. Yasudah akhirnya baca buku satunya yang judulnya Sepotong Hati yang Baru.

Itu buku tentang kumpulan cerpen ternyata, bukan sebuah buku dengan satu cerita utuh. Ngga salah pilihan gw untuk baca buku itu pertama sebagai bacaan selingan ringan. Baru setengah kurang gw baca buku itu. So far so good, lumayan laah.

Besok gw akan bertolak dari Lamongan ini ke Gresik. Nunggu kapal untuk mengantarkan gw ke Accomodation Barge di laut. Mengingat udah ada beberapa buku yang selesai gw baca, maka akan gw kirim balik aja buku-buku itu. Kirim balik sama sepatu baru gw, biar gw ngga repot-repot bawanya. lumayan banyak juga bawaan gw ternyata. Gw mau sortir dulu lah biar gw ngga perlu bawa terlalu banyak barang ke kapal nanti. Ngga sekarang, besok pagi aja. karena sepertinya kantuk akhirnya mulai masuk ni ke diri gw. Mudah-mudahan beneran, ngga boongan. Males aja kalo ternyata cuma bikin gw guling-guling aja diatas kasur.

Okelah, gw bersiap untuk tidur aja deh. Kalo ngga bisa yaudah ngegembel di internet hahahaaaa.

Until next time.

tambahan dikit:
tentunya kosongnya hari gw di sini lebih ngga bisa lepas lagi sama yang namanya musik. jauh lebih sering kuping gw disumpel sama earphone ketimbang tangan gw sibuk baca buku. Banyak lagu baru dan lagu lama yang gw dengerin. Membuat gw kangen sama si Joko ama si Sissy. Ngga sabar buat cepet pulang dan maen sama mereka berdua nanti. Nih gw kasih gambar gw biar ni post ada gambarnya dikit.

Kira-kira begini lah kalau gw lagi maen musik. Ngga deng, ini mah lebih keren 10x lipat soalnya lagi manggung, hahaha.

Kira-kira begini lah kalau gw lagi maen musik. Ngga deng, ini mah lebih keren 10x lipat soalnya lagi manggung, hahaha.

Lengkap. Sekarang semua rasa itu hadir. Datang di waktu yang sebenarnya sudah diperhitungkan, walaupun tetap aja tidak bisa  diantisipasi. Capek, seperti ini terus. Capek, berkutat sama masalah yang begini begini saja. Dengan dia, dengan kamu, dengan mereka, dan pastinya dengan diri sendiri.

Rasanya mau mati saja.

Beberapa hari ini, gw dengar lagu yang sama berulang-ulang. Beberapa hari ini, gw membaca tulisan yang sama berulang-ulang. Beberapa hari ini, gw mencari dan menatap dalam-dalam foto yang sama berulang-ulang.

Dan beberapa hari ini, pikir ini masih membayangkan hal yang sama, hati ini masih berharap hal yang sama, berulang-ulang.

Padahal…

Wahai Tuhan, hamba mohon…

Flash of the mind

R. Parikesit Abdi Negara, self-centrist person with vast imagination yet to hard to be handle. Young and bold boy within full-timer engineer bodies. Simply, effectively, efficiently, myself.

hi! please enjoy my mind! hope it tasted delicious and adding more color in your life. Merci beaucoup!

See the Author of this!

yes, it's me.

Never Forget about Date

December 2016
M T W T F S S
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives of Journal

History in the making (captured)

Tema rehat belajar malem ini: gitaran dalam sunyi (karena suara saya djelexxx)
.
.
.
.
.
Jeng jeng jeng jeeeng~ Foto malam ini dipersembahkan oleh @dayintagoji yang entah nemu di mana dengan judul "Kakiku Berbulu".
.
.
.
.
 Ini foto tahun 2008 kali ya? Kangen kamu juga.

#Repost @30haribercerita
・・・
kangen kalian deh. Selesai juga pos-nya #DelFenture sama @ppidelft.

See the serious side