You are currently browsing the monthly archive for May 2010.
lagi tidur. hehehe. bukan tidur terlelap, tapi hanya terbaring menatapi langit-langit kamar yang telah gw tinggalkan karena gw harus pindah ke tempat yang lebih memandirikan gw. banyak kontras warna putih penanda goresan cat penambal baru saja dioleskan di sekeliling lampu penerangan kamar tempat dahulu gw menempelkan beberapa bintang-bintang “glow in the dark” sebagai pengingat cita-cita bersama yang gw miliki dengan seseorang. tapi seiring cita-cita itu hilang, maka menghilang pula bintang-bintang itu.
tepat di dinding yang menempel dengan badan gw ada poster. poster yang sama yang pernah gw ceritain dengan kata-kata super yang selalu berhasil mengilhami gw untuk berbuat lebih nekat. dan di dinding dihadapan gw, ada sebuah pemandangan baru. pemandangan yang dipasang bertepatan sekali dengan kepindahan gw. sepasang wayang kulit asli saling menatap, mengisyaratkan komunikasi antara keduanya. disebelah kanan, wayang yang sebagai penanda berakhirnya perang suci di tanah tandus kurusetra. Raden Parikesit namanya. terlihat berdebu, namun tidak kehilangan jati dirinya.
di sebelah kiri, terlihat tegar mengamati keponakannya. terlihat lebih usang dari tetangganya, namun tetap memancarkan aura kekuatan. memang itulah menjadi ciri khasnya, pekerja keras. begitu kata Mo Ide, penggemarnya. wayang kulit itu bernama Setyaki. wayang yang bertempur dengan hebat di medan perang Bharatayudha, namun sayang harus mati di luar medan perang, tertindih pintu dikala adanya pemberontakan oleh Astawana.
keduanya terlihat akur, menghiasi dinding. mengisyaratkan, bahwa memang, Raden Parikesit yang ditinggal mati bapaknya Abimanyu dalam perang, harus menjadikan Setyaki sebagai contoh, sebagai paman. begitulah adanya antara gw dan om gw yang satu itu yang memang ngga ada matinya.
dan, salut yang mendalam buat dia, yang secara gw tidak sadari dia yang udah menjerumuskan gw jadi seperti sekarang, dan menginfluence gw dengan begitu pekat. ternyata dialah yang gw tuju, dan nilai-nilai dialah yang melekat dalam diri gw. hehehe…
kembali ke dinding yang kesepian itu, diatas keduanya terdapat pemandangan yang biasa dilihat di ruangan manapun, sebuah jam dinding. namun, kalo gw boleh menyambung-nyambungin, itu adalah bukti absolut dari kekuasaan Yang Menguasai Waktu. tidak bisa berputar kearah kebalikannya. selalu konsisten. bukti bahwa bagi gw, dan om gw itu, ngga ada yang bisa ngelawan kekuasaannya. kita berdua kelak akan berpisah, kita berdua kelak akan bertambah tua, dan kita berdua kelak akan kembali kepadanya.
semoga hidup gw, dan om gw, di ridhai oleh-Nya
may the force be with you
over
a word that’s really hard to say. a word that hold all the weight of the world. a fucking word that’s keep me trembling from time to time. i don’t want to say it. yeah i do not want to say it. and i will never say is. i won’t
it’s glad to know you’re happy with him.
eh HUJAN gerimis aje! ikan teri di asinin…
(benyamin -kalo g salah-, judulnya gw g tau)
dan HUJAN kembali turun, membasahi rumahku…
(Netral, Hujan di Hatiku)
merakit mesin penenun HUJAN, hingga terjalin membentuk awan…
(Frau, Mesin Penenun Hujan)
dan masih banyak lagi.
hujan. kalo kata si wikped, “Hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan.” dan gw ngga akan mencoba mencari definisi lain tentang hujan karena semua orang udah tau hujan itu apa dan kayak apa. bener ngga?
hujan akhir-akhir ini sering banget turun di jogja. mulai dari gerimis mengundang yang cuma bikin becek jalanan, sampe hujan lebat nan liar yang bener-bener bikin bulu kuduk merinding. tadi siang aja cukup aneh (walopun kejadiannya udah lumayan sering sih) ujan ditengah siang bolong yang terik.
hujan bisa dibilang berkah. tertulis jelas banget di salah satu ayat dalem surat di kitab paling utama umat Muslim. tapi kalo udah sampe bikin banjir, air bah, gagal panen, apa masih bisa dibilang berkah? masih, kalo gw bilang, tergantung dari sudut pandang mana lu liat. bener ngga?
buat gw hujan itu berarti saat-saat dimana buat gw untuk merenung. suara tetes hujan yang jatuh itu akan membuat pikiran gw menyelam ke dasar hati terdalam gw untuk berkaca dan introspeksi. hujan juga kadang (atau bahkan sering) menguasai hati dan pikiran gw, membawanya kedalam kondisi yang orang-orang bilang melankolis, mellow, atau bahkan ngga produktif. tapi buat gw, sensitif.
hujan bisa membuat gw jadi orang yang paling kebal. kebal omongan, cibiran, gosip, atau info-info yang berseliweran disekitar gw. karena gw sibuk dengan dunia gw, dunia pari yang sedang di inspeksi oleh pari yang merasa paling benar, tapi hanya bisa menyalahkan. hujan bisa juga buat gw jadi hilang kendali, ngga perduli seperti apa keadaan yang sedang gw hadapi, dengan perkasa gw tantang hujan besar itu, membiarkan tiap tetesnya membasahi dan menjalar mengalir turun di tubuh gw. ya, gw suka hujan-hujanan. membuat gw merasa menyatu dengan alam. membuat gw merasakan seperti apa jadi sesuatu yang terus menerus mengagungkan nama Yang maha menciptakan, sambil terus memberikan naungan penghidupan bagi spesies paling buas yang pernah ada, atas izin-Nya. dan hujan, kadang membuat gw sakit juga, dikala tiap sel dalam diri gw sedang tidak dalam keadaan primanya.
فبأي آلاء ربكما تكذبان
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
(bukan bermaksud menggurui, QS: The Merciful)
gw lagi singit nih, hehehehe
review ini dibuat berdasarkan pemikiran sepihak, penilaian sepihak atas tolok ukur yang telah dikalibrasi secara sepihak, dikomentari secara sepihak, dan buat atas subjektifitas sepihak oleh seorang pengamat komik yang (insya Allah) sudah teruji karena telah melanglangbuana dunia perkomikan selama lebih dari 10 tahun. harap maklum yaa
mangatraders.com’s summary:
For the first 14 years of his life, Yukio Tanaka has been one heck of a boring guy. He has no hobbies, weak taste in music, and only a small vestige of a personality. He yearns for an exciting life, but his shy, and somewhat neurotic personality make him his own worst enemy. Little does he know that his life will be forever changed when he meets Ryusuke Minami, a wild and unpredictable 16-year old fresh from America, who happens to be in a rock-and-roll band. Then soon after the confronation Yukio is thrown into a whole new world. Followed by orginal and unique faces, a crime boss, and a band named after Ryusuke’s Frankenstein-like patched dog–Beck.
jadi ni komik ceritanya tentang anak muda yang bernama <baca diatas aja yak, gw juga lupa, hehe> yang tadinya anak yang biasa-biasa aja, sampe dia ketemu sama anjing aneh yang bernama beck. tenang, komik ini ngga bercerita tentang petualangan si anak sama anjingnya, tapi pengalaman dia bertemu sama empunya si anjing yang namanya (kalo ngga salah, nama depannya) Ryusuke, membuat jalan hidupnya berubah. apalagi begitu Maho (adeknya si Ryusuke, bukan Mahasiswa Homo, Masyarakat Homo, apalagi eMak-emak Homo) menyadari bakat pita suara si tokoh utama kita begitu luar biasa dan kemampuannya belajar memainkan gitar dengan cepat. dari situlah dimulainya petualangan nih komik berawal. ceritanya kocak, walaupun ngga se-bold Crayon Sinchan, tapi cukup buat bikin perut lu keram di beberapa bagian. lumayan disisipi dengan ilmu pengetahuan seputar musik, cerita cinta, dan tentunya persahabatan para personil dari Beck -atau yang di amerika dikenal sebagai Mongolian Chop Squad-. oh iya, ngomong-ngomong, ini komik ceritanya tentang musik!
walaupun di Mangatraders.com dapet peringkat 236 dari sekitar 1000 lebih komik manga, jujur (relatif menurut gw nih) ni komik patut lu cicipi. secara gw emang pecinta musik, dan komik. ngga gw sangka paduan keduanya mematikan juga. hehehehe! oh iya, jangan lupa coba donlot soundtrack mereka juga biar lu ada bayangan seenak apa lagu-lagu mereka.
not recommended to see Beck – Mongolian Chop Squad in anime by the way. well, that’s because i don’t like anime. hehehehehe!
segitu dolo lah review singkat gw, hehehehehe!
saya belum siap buat ujian akhir semester,
saya belum siap buat membiayai kuliah saya sendiri,
dan…
saya belum siap buat perang di kehidupan nyata!
hm, baru tau kalo malem-malem di Kantor Pusat Tata Usaha Fakultas Teknik UGM ada nyamuk juga kalo malem-malem. sebenernya akses buat keluar masuk KPTU udah di tutup dari jam 12 malem, tapi beruntung ada Pitoi (gw sudah putuskan, inilah nama buat Poligon Quatro 17,5 inchi gw yang berwarna hijau. haha! thaks ya buat masukannya!) yang bisa melewati terjalnya jalanan masuk (baca: naek lewat tangga) menuju tempat gw wifi-an (baca lagi: nyolong sinyal). seenggaknya sambil ngenet, donlot komik baru (BECK!) sambil dengerin lagu dari hp, dan sambil ngerjain tugas (tadi, sekarang udah berenti) gw menghadap ke langit malam yang berwarna hitam ngga ada bintang. mungkin gara-gara cahaya dari LCD-nya si dede yang buat mata gw ngga bisa nangkep kerlipan cahaya dari temen-temen gw dimalam hari yang jumlahnya hanya Tuhan yang memiliki seluruh alam semesta yang tahu.
seru juga ngeliat ada peningkatan di grafik pembaca blog gw, hehe. yah, walaupun belom sampe 2 digit, tapi udah cukup buat gw seneng tau ada orang yang rela menyisakan sedikit waktunya buat baca kisah gw, paling ngga liat siluet gw di header blog gw. hehehehe!
menyikapi itu, gw putuskan untuk blogwalk dikit. sempet liat-liat blog temen-temen SMA, ngomen di beberapa post, dan liat blog nak fistek yang kayaknya mulai diserang wabah bikin blog. hm, mungkin euforianya beda waktu antara di jogja dan di jakarta. hehe, no offense.
sumpah, lagi-lagi gw akan bilang kalo sebenernya gw udah punya 2 topik yang akan gw bicarakan, judulnya pun udah ada di kepala gw, tapi gw pending dulu publish-nya karena mumpung ada ide mendadak yang pengen gw tulis, jadi gw dahulukan dulu. kan ada pepatah bilang, “ilmu itu ibarat kuda yang amat sangat kencang larinya dan liar. maka kita butuh pena untuk mengikatnya sehingga tidak lagi, dan bisa kita jinakkan pelan-pelan. sehabis itu, mau di potong kek tuh kuda, atau di pake buat jalan-jalan kek, atau dipake buat alat pemberantas rumput liar kek, terserah anda!“(hehehe, bohong deng, naskah aslinya ngga begitu. yang di-bold itu mah tambahan gw doangan)
maka gw putuskan untuk mengikat erat-erat pikiran gw di blog gw malem ini!
akhir-akhir ini banyak banget ekspektasi gw yang ngga bisa gw penuhi. sampe gw nyalahin seseorang yang lagi banyak-banyaknya terlibat interaksi sama gw akibat itu (sorry ya cuy). sampe-sampe gw menjauhi teman-teman gw sendiri dan berpkir buruk tentang mereka. sampe-sampe gw mulai kehilangan fokus akan tujuan awal gw. dan gw belajar satu hal. gw belum pantes.
<<intermezzo, sumpah, lagunya Gita Gutawa yang judulnya Harmoni Cinta itu megah banget kalo didengerin. ckckck…>>
gw belum pantes untuk bisa megang dan dapatkan semua ekspektasi gw. mungkin bisa juga dibilang gw belum siap. masalahnya gw rasa gw bisa, namun Yang maha sempurna rencananya aja masih belum mempercayakan itu semua sama gw, berarti memang gw belum siap buat nerima itu semua. dan yaa, mungkin belum pantes juga buat nerima itu. kadang memang kita berharap pada hal-hal yang luar biasa, padahal belum tentu kita siap buat menerima konsekuensi sebagai yang luar biasa.
Saya belom siap buat ujian akhir semester
jelas, karena masih banyak banget materi yang belum gw kuasai. dan gw ngga mau mengulangi kesalahan gw seperti semester ganjil kemaren. gw ngga mau ada temen gw yang berhasil berjingkrak-jingkrak karena ekspektasinya tentang grafik nilai IP gw secara keseluruhan adalah dengan menarik garis lurus dari ip-ip gw sebelumnya, maka bisa di perkirakan ip-ip semester yang belum gw lalui, yang singkatnya, berarti ip gw akan terus terjun bebas. that won’t happen dude, sumpe dah insya Allah.
Saya belom siap membiayai kuliah saya sendiri
memalukan emang, tapi gimana lagi? orang gw baru belajar buat nyuci sempak gw aja beberapa bulan lalu, dan kamar gw aja masih tetep aja berantakan. apalagi buat berwirausaha atau membiayai kuliah gw sendiri? gw selalu bisikkan dalam diri gw kalo wirausaha itu bukan gaya gw. tapi itu artinya gw mendeklarasikan kalo diri gw budak seumur idup dong? amit-amit dah. dan biaya kuliah dari mana lagi coba? dari beasiswa? orang belajar aja masih kayak anak smp, ngga bertanggung jawab, masih mimpi dapet beasiswa. ckckckck…
Saya belom siap buat perang di kehidupan nyata
yah, saya belum siap lahir bathin. gw ngerasa kompetensi gw masih belum cukup buat terjun ke dunia kejam yang ngga ada ampun lagi. belum siap buat hidup diatas kedua kaki gw. belum siap buat mencukupi kebutuhan hidup gw, alih-alih menopang sebuah keluarga. andai sekarang gw dilepas ke dunia nyata, pasti gw cuma berujung di pinggiran jalanan ngemis-ngemis. karena gw belom bisa apa-apa!
EHEM!
tenang, bisa dipastikan yang ngomong seperti diatas itu bukanlah pari yang anda kenal. tanpa bermaksud jumawa, andaikata gw harus ujian akhir semester besok, maka gw akan hadapi dengan tegar, karena itulah hidup, kita harus siap buat menghadapi kejutan dan tantangan. andaikata nyokap gw bilang minggu depan dia terpaksa harus berhenti membiayai kuliah gw, maka gw akan memutar otak untuk terus bisa kuliah, karena itulah hidup, kita harus terus berjuang pantang menyerah pada keadaan untuk tetap mempertahankan dan memperjuangkan tujuan hidup kita. andaikata tiba-tiba besok Dr-ing Sihana, Kajur Teknik Fisika manggil gw dan bilang mereka udah ngga bisa ngajarin gw lagi, maka gw akan terus melangkah maju dengan yakin ke medan perang kehidupan nyata, karena itulah hidup, kita harus mencoba segala kemungkinan yang bisa kita coba untuk bisa survival dan bisa sukses lahir bathin bahkan di tengah belantara hutan yang kejam sekalipun dan menjadi pelita di tengah gelap gulitanya keadaan.
setuju? tanpa bermaksud untuk sombong, apalagi jumawa (amit-amit) cuma pengen nulis sesuatu yang akan menyemangati gw kelak, karena ini pun akan gw baca sebagai bukti akan semangat yang pernah gw miliki.
Hayo! SHEMANGAAADD!
sampai jumpa di post gw yang berikutnya crott!
semua sudah bergegas, mengepaki barang bawaan yang mereka bawa. tapi beberapa terlibat percakapan. disanalah gw tahu dia pertama kali.
dia lahir dari seorang yang pintar merangkai notasi. dari tangan yang gemulai memainkan alat yang memukul senar. dari pita suara yang indah dikala beresonansi bergetar bersama udara yang keluar dari rongga dada ibundanya. begitu cibir mereka. sebagai penikmat nada indah, gw pun tertarik mendengarkan.
mesin penenun hujan. tiga kata ini terlintas di kepala gw. nama yang aneh untuk sebuah karya, tapi tidak ada standar apapun dalam dunia seni. hati ini pun penasaran dibuatnya. dan telinga ini tak sabar untuk bergetar pasrah akibat gelombang merdu yang ia bawa.
berminggu-minggu gw hanya dapatkan rasa penasaran ini membesar. bertambah pula lidah manusia yang membicarakan dirinya. tapi tidak jua kudengar alunan suara, bunyi, melodi yang gw tunggu-tunggu. sampai malam itu.
dingin, dan gw pun mulai melupakan dia. gw cuma ingin mencari sebuah kecurangan, tapi dia mengintip dari deretan kata-kata, terkadang kode, yang tersusun rapi di kotak berisi kristal cair itu. Frau – starlit carousel, mesin penenun hujan. dan yap, gw menemukan apa yang selama ini gw cari.
tidak ada yang berbohong dari apa yang gw dengar tentang dia. langsung berhasil dia menorehkan tinta warna di hati gw. nada itu sempurna, ketukan itu penuh irama, kata-kata itu penuh emosi. tanpa cacat.
sudah lama sejak gw terakhir kali dengar lagu seperti ini. begitu mengemudikan perasaan gw kearah dimana gw merasakan apa yang sedang hati gw rasakan.
jangan salah, kesepuluh bersaudara dari jari gw hanya mencoba menggambarkan sketsa kasar dari perasaan gw. bukan untuk mecoba membuat karya serupa yang mengendalikan perasaan lu. tidak. mereka hanya tidak sabar untuk bercerita.
mereka bersepuluh, namun menjadi satu demi hati yang mempengaruhi pusat pengendali mereka. dan mereka bersama bercerita atas nama hati yang sedang terbuai oleh alunan yang penuh makna itu. “begini ceritanya,” kata para jemari menceritakan…
aku adalah hujan. jatuh dari ribuan kilometer diatas cacing-cacing yang menggeliat di dalam tanah. aku kecil, hanya tetesan, terus mengalami percepatan akibat gaya gravitasi yang tanpa ampun. beberapa akan mengutukku, sementara beberapa berkata bahwa aku adalah berkah. aku tak perduli kata mereka. tak perduli pula rasa sakit ketika tubuhku terpecah belah, terurai akibat tumbukan berkecepatan tinggi itu. aku benar-benar tak perduli.
karena, tak lama lagi aku akan jadi awan. terbang tinggi menjadi paling dekat dengan matahari, kekasihku yang selalu berseri. aku juga yang terdekat dengan bintang-bintang, sahabat-sahabatku yang selalu setia menemaniku ketika malam mulai menyeramkan. dan aku, akan senantiasa memayungi kamu wahai manusia buas, dengan penuh cinta, menambah bentuk dari langit yang kau pandangi dikala kau menyapu pandanganmu ke cakrawala. aku akan jadi pelukis senyum di bibirmu, jika kau memang pandai bersyukur kepada Yang Maha Merencanakan Kehidupan.
hope you enjoy it, Frau, Mesin Penenun Hujan, dari album Starlit Carousel.



Comment makes Perfect